Hari itu terakhir di bulan syawal 1438 H, bertepatan dengan hari terakhir puasa syawal.. Ketahuan suka mepet-mepet ya..
Puasa pun saya jalani seperti biasa saat berpuasa. Namun saat menjelang berbuka, tiba- tiba saja badan terasa kurang nyaman, yang tidak biasa. Mungkin saja karena sedang berpuasa.
Saya raih air hangat beserta satu sendok sari kurma, sebagai mana biasanya berbuka. Tapi rasa nggak nyaman semakin menjadi. Biasa kan ya emak rempong, biarpun saat berbuka kadang masih saja sibuk dengan urusan bocah. Begitu juga saya. Sampai akhirnya nggak kuat, "Bi, tolong pegangin dedek. Badan umi nggak nyaman banget ini." Keringat nggak tahu darimana tiba2 saja membanjir keseluruh tubuh. Jantung berdegub sedemikian kuatnya, nafas serasa berat, pandangan kabur, dan badan gemetaran hebat.
Dunia serasa akan berakhir sesaat lagi.. Abi pun mulai kebingungan, tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Anak-anak pun mulai cemas. Sesaat saya pun merasa kehilangan akal, ini sakit yang tak biasa dan belum pernah terjadi. Ditengah suasana yang tak menentu, saya berusaha untuk bisa menguasai keadaan.
Berulang-ulang saya coba menuang air panas ke dalam gelas, dan coba segera meminumnya, dibantu suami menuangkan sari kurma ke air panas dan segera meminumnya. Suami memborehkan MHS ke seluruh tubuh, kemudian berbaring.
Saya coba untuk memejamkan mata, tapi pikiran kemana-mana, dzikir dan istighfar terlantunkan dari lidah meskipun rasanya begitu kelu. Sekitar 2 jam kemudian, muntah-muntah tak terkendali. Tapi kemudian sedikit lega, hingga saya kembali kuat bangkit untuk sholat maghrib dan isya dan berbuka dengan sekedarnya.
Keesokan harinya, badan masih berasa berat, tapi saat berjalan berasa gempa bumi, saat duduk berasa berada diatas kereta berjalan. Malam harinya, kami berobat ke klinik As-Syifa. Diagnosa dokter sakit maag diberi obat ratinidin dan tripanzyme. 3 hari konsumsi obat tak juga ada perubahan, bahkan bertambah menjadi. Keringat dingin masih saja tiba-tiba mengucur. Saya mencoba bertahan. Karena tak pernah mengalami sakit yang sedemikian, biasanya hanya pusing, atau masuk angin, paling minum madu juga sembuh. 2 tahun sebelumnya terakhir sakit, vertigo alhamdulillah 2 hari berobat langsung sembuh.
Karena sebelumnya terbiasa menggunakan obat herba, saya coba hubungi terapis herba tempat biasa konsultasi, diresepkannya 6 macam herba, alhamdulillah berasa lebih nyaman di badan. Sekitar 1 pekan menggunakan herba, saat obatnya habis, kembali menyerang. Keringat dingin terus mengalir, jantung berdebar-debar, tidak bisa tidur dimalam hari, badan gemetaran dada berasa sesak, mata kabur. Serangannya tidak menentu, kadang siang hari, kadang sore hari, kadang malam hari.
Siang itu saat berada dikantor, tiba-tiba sakit itu menyerang lagi. Sekujur tubuh mendingin, diiringi perut mules dan diare. Saya ambil air, kemudian direbus hingga mendidih, kemudian tuang diember kecil, saya letakkan di bawah kursi, dan saya rendam kaki dengan harapan akan mengurangi rasa dingin yang menyerang, tak juga berkurang, saya masuk ke mobil yang terparkir dibawah terik matahari. Perlahan tubuh mulai menghangat, keringat dingin mulai berubah menjadi hangat.
Bersambung... ke sini
#PerempuanBPSMenulis
#Menulis AsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe1
Dunia serasa akan berakhir sesaat lagi.. Abi pun mulai kebingungan, tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Anak-anak pun mulai cemas. Sesaat saya pun merasa kehilangan akal, ini sakit yang tak biasa dan belum pernah terjadi. Ditengah suasana yang tak menentu, saya berusaha untuk bisa menguasai keadaan.
Berulang-ulang saya coba menuang air panas ke dalam gelas, dan coba segera meminumnya, dibantu suami menuangkan sari kurma ke air panas dan segera meminumnya. Suami memborehkan MHS ke seluruh tubuh, kemudian berbaring.
Saya coba untuk memejamkan mata, tapi pikiran kemana-mana, dzikir dan istighfar terlantunkan dari lidah meskipun rasanya begitu kelu. Sekitar 2 jam kemudian, muntah-muntah tak terkendali. Tapi kemudian sedikit lega, hingga saya kembali kuat bangkit untuk sholat maghrib dan isya dan berbuka dengan sekedarnya.
Keesokan harinya, badan masih berasa berat, tapi saat berjalan berasa gempa bumi, saat duduk berasa berada diatas kereta berjalan. Malam harinya, kami berobat ke klinik As-Syifa. Diagnosa dokter sakit maag diberi obat ratinidin dan tripanzyme. 3 hari konsumsi obat tak juga ada perubahan, bahkan bertambah menjadi. Keringat dingin masih saja tiba-tiba mengucur. Saya mencoba bertahan. Karena tak pernah mengalami sakit yang sedemikian, biasanya hanya pusing, atau masuk angin, paling minum madu juga sembuh. 2 tahun sebelumnya terakhir sakit, vertigo alhamdulillah 2 hari berobat langsung sembuh.
Karena sebelumnya terbiasa menggunakan obat herba, saya coba hubungi terapis herba tempat biasa konsultasi, diresepkannya 6 macam herba, alhamdulillah berasa lebih nyaman di badan. Sekitar 1 pekan menggunakan herba, saat obatnya habis, kembali menyerang. Keringat dingin terus mengalir, jantung berdebar-debar, tidak bisa tidur dimalam hari, badan gemetaran dada berasa sesak, mata kabur. Serangannya tidak menentu, kadang siang hari, kadang sore hari, kadang malam hari.
Siang itu saat berada dikantor, tiba-tiba sakit itu menyerang lagi. Sekujur tubuh mendingin, diiringi perut mules dan diare. Saya ambil air, kemudian direbus hingga mendidih, kemudian tuang diember kecil, saya letakkan di bawah kursi, dan saya rendam kaki dengan harapan akan mengurangi rasa dingin yang menyerang, tak juga berkurang, saya masuk ke mobil yang terparkir dibawah terik matahari. Perlahan tubuh mulai menghangat, keringat dingin mulai berubah menjadi hangat.
Bersambung... ke sini
#PerempuanBPSMenulis
#Menulis AsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe1
