Pagi ini rasanya enggan pergi ke sekolah mbak Syaymaa untuk memenuhi undangan parenting class yang di selenggarakan yayasan Al-Amin Curup. Pasalnya semalam lepas maghrib ketika menemani anak-anak main ada sedikit accident, dek Syafiq main lompat-lompaten di kasur, pas badannya dihempaskan ke belakang kuat-kuat, kepalanya terbentur kayu dipan, tak ayal lagi langsung menangis menjerit-jerit dan dalam hitungan detik langsung muncul 'tomat' dikepalanya, ku oleskan minyak andalan keluarga 'herba jawi' alhamdulillah nangisnya reda, sedikit lega, walaupun masih tersisa rasa cemas. Rasa cemas itu bertambah ketika malam semakin larut, sekitar jam 12an, dek syafiq terbangun seperti biasa minta susu. Saat minum susu itulah dek syafik sempat mau muntah tapi nggak jadi trus tidur lagi sampai pagi alhamdulillah tidak ada insiden lagi.
Bismillah akhirnya kubulatkan tekad, tetap pergi, setelah pengasuh dek Syafiq datang, anak2 sengaja ku tinggal dirumah, lha wong niatnya mau belajar kok, kalo bawa anak jadi lain ceritanya.
Sebelum memulai berbagi hasil pelatihan parenting class perkenalkan dulu instrukturnya, nama beliau Meilya Novira beliau tinggal di Padang, mudah2an ilmunya menjadi amal jariyah untuk beliau.. Amiin. Disini saya hanya bermaksud mengulas mudah2an bermanfaat untuk saya pribadi dan yang membacanya.
Allah berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 6 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai ( perintah )
Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan”, Q.S. A-Tahrim/66: 6
Dari ayat ini jelas Allah memerintahkan kepada kita untuk menjaga diri, dan keluarga dari api neraka, jadi perintahnya diri kita dulu dan keluarga kita baru orang lain. Yang sering kita lakukan justru sering terbalik, kita menjaga, menyelamatkan, berbuat baik pada orang lain tapi kadang berlaku sebaliknya pada keluarga kita. Contoh, ketemu teman, tetangga, atasan, kita langsung menyapa mereka dengan ramah, tersenyum, kata-katanya lembut, bahkan mengucapkan ' Assalamu'alaikum....', nah dengan keluarga kita? Dengan suami, dengan anak2? Kadang tidak sebaik perlakuan kita pada 'orang lain'. Iya nggak? jujur aja? saya juga sering begitu kok. Astagfirullah... banyak alasannya sih, kadang karena merasa sibuk, atau pasangan sudah sangat dekat jadi nggak perlu basa-basi lagi, padahal merekalah yang lebih berhak mendapatkan perlakuan itu semua. Contoh lain lagi, kalau ada anak teman, atau keponakan, atau anak tetangga yang tiba-tiba datang pegang-pegang tangan atau baju kita. apa yang kita katakan? 'apa sayang?',tapi kalau anak kita yang dekat-dekat, apa yang akan kita katakan? 'ngapai dekat2! minta duit lagi? jajan lagi? dll'. kalau anak tetangga memecahkan gelas kita, apa yang kita katakan? kalau anak kita, apa yang kita katakan? bandingkan! ternyata kita sebagian besar mungkin masih lebih banyak berbuat baik dengan orang lain..
Nabi Muhammad SAW pernah
bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak
mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya lah yang menjadikan dia
seorang yahudi atau nasrani atau majusi sebagaimana seekor hewan
melahirkan seekor hewan yang sempurna. Apakah kau melihatnya buntung?”
Apapun kondisi anak kita hari ini, sesungguhnya semua adalah hasil karya kita. Disadari atau tidak semua adalah hasil coretan tangan kita, kita tidak bisa cuci tangan dengan mengatakan, gara-gara banyak main! gara-gara pengasuh! gara-gara si tukang bikin gara-gara, sebab sesungguhnya kita lah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. (ini nih yang sering juga dijadikan pembenaran oleh ibu2 bekerja sepertu saya.:-P Tapi tetap semangat kita bisa berubah! Jadi lebih baik insyaallah)
Banyak orang tua mengeluhkan 'kenapa ya anak saya jadi susah diatur? disuruh sholat susah, disuruh belajar susah, suruh bangun pagi susah, eh boro-boro kadang suruh mandi aja susah, maunya main aja, nonton TV aja, main game aja. Jangan cari kambing hitam dulu, kita koreksi diri kita sendiri. Kita sebagai ibu sudahkah melibatkan anak2 dalam urusan kita? Sebagian besar ibu seneng kalo anaknya diam, nggak gangguin kerja makanya supaya diam dikasih mainan. Misal nih ibunya mau masak biasanya biar nggak digangguin, anaknya dikasih mainan, yang paling gampang disetelin TV, dah selesai urusan! Biasanya anak kan diam kalo disetelin film kesukaannya, sang ibu bisa bekerja menyelesaikan kerjaan rumah dengan leluasa alias aman. Saya juga sering begini, tapi mulai hari ini tidak akan lagi deh! Insyaallah. Yang sebaiknya dilakukan adalah melibatkan anak dalam pekerjaan ibu, sehingga anak selalu dekat setiap pertanyaan dijawab dengan baik sehingga anak akan mendapat ilmu dari ibunya karena kan 'Al Ummu madrosah alias ibu adalah tempat sekolah bagi anak-anaknya'.
Selain kebiasaan kita nggak mau digangguin anak pas kerja, kadang juga karena muncul ketakutan nanti anak sakit kalo ikut2an kerja. Misal kalo ikutan nyuci ntar kedinginan. Kalo ikutan masak ntar kena pisau kecipratan minyak, luka. Kalo ikutan nyapu ntar kena debu khawatir pilek. Nah kebiasaan yang seperti ini bisa menciptakan kondisi anak kita menjadi "anak steril", padahal anak yang baik itu "anak imun'.
Mau tahu beda "anak imun" dan "anak steril". Anak imun itu dari segi fisik dia tahan, nggak mudah sakit, kebal, kuat, dari segi mental dia bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Contoh dari segi fisik kalo kena hujan, badannya kuat nggak mudah flu, kalo main kotor, badannya kuat nggak mudah sakit perut. contoh kongkritnya anak jalanan, dia kena hujan badai, tinggal di kolong jembatan, makan makanan dari tempat sampah tetep aja bugar kalo sakit paling demam-demam biasa, nah kalo anak kita yang begitu, kira2 kuat nggak ya? Imun dari segi mental itu walaupun anak kita main dengan teman yang beraneka macam karakter dan latar belakang dia punya nilai yang tetap dipegang teguh, misal teman2 ngomong jorok anak kita tetap bisa menyaring nggak terpengaruh, ketika anak kita lagi asyik main pas denger azan nggak lupa sholat, tetep hormat dengan orang tua meskipun teman2nya tidak.
Nah kalo "anak steril" itu anak yang benar2 terjaga, badannya sehat, gemuk, karena makan teratur, istirahat teratur, lingkungan bersih, kerjaannya cuma belajar, nggak pernah nonton TV, nggak pernah main, pokoknya semua terjaga teratur danrapi. Enak bener dilihat bikin orang terkagum-kagum hebat bener Emaknya. Jempol deh. Tapi giliran dilepas, kena hujan langsung flu, main tanah langsung diare, main gunting langsung luka, kena angin masuk angin, main bentar sama temen pulang ngomongnya jorok, nonton TV langsung ilang apalan di sekolah.
Jadi kira-kira kedepannya bagusan 'anak imun' atau 'anak steril'? Yang anaknya tipe 'anak imun' ngacung! Jempol untuk ibu dan anak. Yang anaknya tipe 'anak steril' ngacung! Yuk kita siap2 perbaiki diri!..
Sebagian besar ibu punya problem dengan anaknya, mulai susah bangun pagi, susah mandi, susah makan sayur, kalo mau sholat harus diingetin melulu, kalo mau belajar dikejar-kejar dulu, anak taku kucing, takut cicak dll. Problem itu sebagian ada pada saya. Coba kita refleksi kebelakang, mungkin anak kita bangun pagi karena dulu sewaktu bayi kalo kita bangun pagi anaknya disuruh tidur lagi biar nggak mengganngu urusan dapur, biar bisa pergi kantor cepet2. Anak saya takut bener sama kucing sebab kebiasaan pengasuh supaya anak mau makan ditakut2in kucing, "awas! ada kucing ntar kalo nggak makan digigit kucing! awas! jangan keluar! ntar digigit kucing! awas kalo nggak tidur ntar digigit kucing!. Ada anak suka bohong, mungkin kita yang ngajarkan bohong pada anak kita secara tidak sengaja, misal kita suruh mandi nggak mau, trus kita janjikan "ntar habis mandi, kita pergi jalan2 naik mobil", padahal mobil nggak punya anak kita nanya "pake mobil siapa ma?" kita jawab"nanti kita sewa mobil di rental lah" akhirnya anak mau mandi. Eh giliran selesai mandi anak nagih jalan2, kita ngelak. ketahuan deh sama anak bahwa ibunya bohong, jadilah itu pelajaran bohong di ikutin anak2 kita. Itulah memang benar ibu, itu jadi guru sejati bagi anaknya.
Pikiran manusia itu ada 2 macam yaitu pikiran sadar (confusius) dan pikiran bawah sadar (sub confusius). Pikiran sadar itu bentuknya berupa berpikir rasional, analisa, membandingkan dan sifatnya sementara. Sedangkan pikiran bawah sadar itu berupa kebiasaan, emosi, kepribadian, persepsi, ingatan jangka panjang, intuisi, keyakinan, kreatifitas, dan fungsinya otomatis atau reflek. Contoh orang mati syahid itu diujung usianya dia mampu mengucapkan "Laa illaha illallah" kalo dipikir2 alangkah mudahnya kata itu diucapkan, tapi pada kenyataannya orang yang lagi sakaratul maut sulit sekali mengucapkan kalimat tersebut. Kenapa? Karena kata "Laa illaha illallah" itu masih berada di 'pikiran sadar' kita belum menjadi 'pikiran bawah sadar' kita, belum menjadi nafas kita, belum mengalir bersama darah kita. Na'udzubillahi min dzalik. Apalagi orang yang tidak pernah sholat, berkecimpung dengan maksiat, saat sakaratul maut ditalkin malah yang keluar dari mulutnya "ayam, bebek, kucing", pas disuruny nyebut yang keluar kata "nyebuuut...., nyebuuut..." Na'udzubillahi min dzalik. Nah kalo 'pikiran tidak sadar' lain lagi, contohnya pas kita terima telpon, tiba2 ada tamu, tamunya pergi bingung kita nyari HP yang barusan kita pakai, tahu2 ada didekat kompor batre sudah meleleh, mau marah nggak ada orang lha wong emang salah kita sendiri.
Teknik mendidik Rasulullah yang semestinya kita contoh adalah:
1. Ajari, jadi anak kita ajari bukan kita larang. Misalnya anak kita yang ber umur 1,5 tahun melihat gunting tergeletak diatas meja, kemudian muncul rasa penasarannya, akhirnya dimainkannya gunting itu. Yang sebaiknya kita lakukan sebagai ibu adalah mengajarinya, mengajarkan cara memakainya, mengajarkan akibat kalau salah memakainya tentu dengan cara yang mengerti oleh anak kita, dan meminimalisir penggunaan kata "jangan"
2. Permudahlah jangan persulit, permudah urusan anak kita selama permintaannya tidak membahayakan jiwanya. banyak kejadian seorang anak yang kalo ada tamu, dia bertingkah macam2 yang minta jajan lah, atau merengek-rengek, minta gendong, cari perhatian dll. Yang begini perlu introspeksi ibunya, mungkin anaknya sering dipersulit urusannya giliran ada orang baru dipermudah. Ada sebuah kasus, anak yang serung mengotori rumah kalo lagi ada tamu, mengotorinya nggak tanggung-tanggung kadang dengan kencingnya kadang dengan 'pup'nya di oles2 ke tembok, kata ibunya kejadian sepeti itu hanya saat ada tamu. Ketika anaknya dikosultasi, ternyata anak itu merasa disayang oleh ibunya saat ada tamu, alias ibunya berlaku lemah lembut kalo ada orang lain.
3. Berilah kabar gembira jangan beri ancaman. Contoh yang sering terjadi saat anak mau tidur malam, karena nggak tidur kita takut2i dengan cicak, kucing dsb akibatnya anak menjadi penakut.
4. Apabila diantara kalian marah maka hendaklah diam. Yang ini kadang susah, tahu2 aja darah sudah sampai ubun2, mulut nyerocos terus, akibatnya anak yang dimarah nggak tahu kenapa dia dimarah, "entah tuh, mama marah2 terus". Jadi boros lah mulut kita.
Pikiran bawah sadar ini bisa kita ciptakan dengan memilih waktu yang tepat diantaranya saat bersenang2, saat sakit, saat makan dan saat sebelum tidur.
Perilaku anak kita bisa kita program agar masuk ke pikiran bawah sadarnya dan menjadi kebiasaannya dengan cara:
1. Pengulangan, misal makan, kita ulang pada waktu yang sama setiap jam 6 pagi selalu sarapan, lama kelamaan nggak pakai disuruh lagi setiap jam 6 pagi pasti minta sarapan. Setiap keluar rumah kita suruh pakai jilbab, lama kelamaan keluar nggak perlu kita kejar2 otomatis pakai jilbab.
2. Emosional Attachment, dengan pendekatan emosional. Ini saya lakukan pada anak saya Syaymaa' umur 6 th setiap sholat harus diingatkan. Akhirnya saya gunakan pendekatan ini, selesai sholat saya ajak bicara pelan-pelan suara dilembutkan, nada direndahkan.
Saya: "Mbak, mbak Syayma sayang Umi nggak?"
Syaymaa': "Sayang lah mii... Sayang nian.. Syayma sayang umi karena Allah" (ikut2an dialog hafalan shalat delisa)
Saya: "Mbak Syayma mau sama2 umi terus nggak?"
Syaymaa': "Mau umi... kan syayma sayang nian sama umi"
Saya: "Tapi mbak kita nggak bisa sama2 lagi, umi harus pisah sama mbak Syayma'"
Syaymaa': " Knapa umi? Syayma nggak mau ditinggal sama umi"
Saya:"Iya nak. Kalo mbak syaymaa nggak sholat, kita nggak bisa sama2, nanti umi di syurga mbak syayma nggak bisa masuk syurga, kata Alloh orang yang mau masuk syurga harus sholat. umi sedih deh kalo mbak syayma harus pisah sama umi gara2 mbak syayma kalo sholat harus diingetin mulu"
Syayma sambil nangis2: "Iya umi, mulai hari ini syayma mau rajin sholatnya, syaymaa nggak mau pisah sama umi.. karena Syaymaa sayang umi."
3. Bahasa pikiran bawah sadar, Ini intinya. Bagi ibu yang bekerja tentunya tidak bisa mendampingi putra-putri sepanjang hari ya. Kita bisa mempengaruhi atau mengkondisikan pikiran bawah sadarnya caranya mirip dengan hipnotis, bisa kita lakukan pada saat otak berada di kondisi gelombang alfa, kondisi ini ditemui saat menjelang tidur dan bangun tidur. Metode ini saya terapkan pada anak saya, dek syafiq yang belum mau makan nasi di usia hampir 2 tahun. Alhamdulillah paginya ngejar2 mbaknya yang baru makan, katanya nasi enak.
Bahasa pemrograman bawah sadar dilakukan dengan:
a. Kata "positif" artinya tinggalkan kata "jangan" misalnya anak kita penakut maka gunakan kata pemberani, anak kita malas maka gunakan kata rajin, dll.
b. Gunakan kata "aktif", masih ingat kan? kata aktif? seperti belajar, mandi, makan, kata yang diawali me:
c. Simpel, artinya kita langsung menggunakan kata yang kita mau, jangan berbelit-belit sehingga otak kesulitan memprogramnya.
d. Gunakan kata "sekarang", sebab kalau kita menggunakan kata "besok", maka yang ada di program otak adalah besok, besok,besok... sampai akhirnya tidak pernah dilakukan. PERCUMA
e. "Detil", gunakan kata yang detil, atau langsung ke pokoknya.
f. Diulang-ulang, kalimat yang kita ucapkan sebaiknya diulang-ulang, kalau perlu sampai anak kita mengatakan "iya" atau mengangguk.
Teknik yang saya terapkan pada anak saya, saya memilih waktu sebelum tidur sesaat sebelum benar2 terlelap, kebayang kan? saat mata anak saya sedang 'liyep' atau antara terlelap dengan terjaga, saat matanya mulai memejam sekali2 terbuka, saya ucapkan sambil setengah berbisik tapi kalimat jelas dan tegas "Dedek Syafiq... Mulai sekarang dedek makan nasi" setelah ada anggukan ulang lagi beberapa kali, sampai dedek mengangguk atau mengucapkan "ya" baru saya tambahkan "Nasi enak, sehat, kuat. Mulai sekarang dedek makan nasi" sampai dia mengangguk atau mengucapkan kata "ya" ulangi sampai dia mengucapkan kata ya " Makan nasi, makan nasi" setelah mengiyakan dengan jelas, baru saya biarkan dia tidur. Alhamdulillah paginya makan nasi nggak sulit lagi. tapi ini bisa diulang lagi untuk malam2 berikutnya agar benar2 terprogram.
Saya nggak ngajarin nih ya, cuma mencontohkan, ini bisa juga diterapkan pada orang dewasa, pada pasangan kita misalnya tapi tentunya bukan untuk makan nasi ka? bisa bahaya ntar obesitas.
Bahasa pemrograman bawah sadar dilakukan dengan:
a. Kata "positif" artinya tinggalkan kata "jangan" misalnya anak kita penakut maka gunakan kata pemberani, anak kita malas maka gunakan kata rajin, dll.
b. Gunakan kata "aktif", masih ingat kan? kata aktif? seperti belajar, mandi, makan, kata yang diawali me:
c. Simpel, artinya kita langsung menggunakan kata yang kita mau, jangan berbelit-belit sehingga otak kesulitan memprogramnya.
d. Gunakan kata "sekarang", sebab kalau kita menggunakan kata "besok", maka yang ada di program otak adalah besok, besok,besok... sampai akhirnya tidak pernah dilakukan. PERCUMA
e. "Detil", gunakan kata yang detil, atau langsung ke pokoknya.
f. Diulang-ulang, kalimat yang kita ucapkan sebaiknya diulang-ulang, kalau perlu sampai anak kita mengatakan "iya" atau mengangguk.
Teknik yang saya terapkan pada anak saya, saya memilih waktu sebelum tidur sesaat sebelum benar2 terlelap, kebayang kan? saat mata anak saya sedang 'liyep' atau antara terlelap dengan terjaga, saat matanya mulai memejam sekali2 terbuka, saya ucapkan sambil setengah berbisik tapi kalimat jelas dan tegas "Dedek Syafiq... Mulai sekarang dedek makan nasi" setelah ada anggukan ulang lagi beberapa kali, sampai dedek mengangguk atau mengucapkan "ya" baru saya tambahkan "Nasi enak, sehat, kuat. Mulai sekarang dedek makan nasi" sampai dia mengangguk atau mengucapkan kata "ya" ulangi sampai dia mengucapkan kata ya " Makan nasi, makan nasi" setelah mengiyakan dengan jelas, baru saya biarkan dia tidur. Alhamdulillah paginya makan nasi nggak sulit lagi. tapi ini bisa diulang lagi untuk malam2 berikutnya agar benar2 terprogram.
Saya nggak ngajarin nih ya, cuma mencontohkan, ini bisa juga diterapkan pada orang dewasa, pada pasangan kita misalnya tapi tentunya bukan untuk makan nasi ka? bisa bahaya ntar obesitas.
4. Figur, artinya anak butuh contoh konkret. Jangan hanya disuruh, tapi dicontohkan. Misalnya urusan mandi, sholat, orangtuanya harus mencontohkannya.
5. Mind Therapy, dilakukan sampai kata mau. Contoh anak disuruh mandi susah.
Ibu: ayo mandi nak sudah sore.
Anak: nggak mau.
Ibu: adek mau sehat nggak? kalo sehat kita bisa main.
Anak: mau.
Ibu : adek mau wangi nggak? kalo wangi semua teman sayang sama adek.
Anak: mau.
ibu: kalo gitu adek mandi ya..
Anak: mau.
jadi kondisikan anak dengan jawaban mau, tapi ingat ya nggak boleh berbohong.
Demikian ilmu yang saya dapatkan mudah2an bermanfaat.
Demikian ilmu yang saya dapatkan mudah2an bermanfaat.