Minggu, 11 Februari 2018

Petualangan Didunia Berjuta Sensasi 3

Sambungan dari sini
Akhirnya malam itu memutuskan untuk lari ke igd RS UUUU, setelah merepotkan banyak orang. Panggil adek ipar untuk ngantar ke RS, panggil teman sekantor abi untuk jagain di RS. Sedangkan abi, menjaga anak2 dirumah, karena kami tidak punya pengasuh yang menginap.
Sesampainya di IGD, di lakukan observasi dengan cek tekanan darah, dan tes gula darah. " Maaf buk, ibu nggak perlu opname. Tekanan darah ibu normal, gula darah bagus, demam juga nggak ada, hanya badan yang dingin dan gemetar. Kami lakukan suntik vitamin B aja ya buk. Kalo besok masih ada keluhan, ibu periksa ke internis aja ya.." Akhirnya kami pulang setelah dilakukan suntik vit B, dan dibekali vitamin B.

Keesokan harinya, sakit tidak juga berkurang. Suami memutuskan untuk lanjut periksa ke bagian internis. Setelah menunggu sekitar 4 jam, karena dokternya visitasi, akhirnya kami ketemu dokter Sp.PD. " Ibu bukan tipes ini, syarat pertama tipes itu demam tinggi! Ibu nggakbpernah demam kan? Ini salah diagnosa, tipes itu jika hasilnya > 1/320. Sedang ibu cuma 1/ 160, itu normal, semua orang sehat diperiksa widal akan muncul segitu. Badan ibu dingin, karena ibu nggak demam tapi minum parasetamol. Itu salah besar. Ibu ini lambungnya aja bermasalah, bukan penyakit mematikan. Ini saya resepkan obat." Penjelasannya yang terus menyerocos.. xixixi. Lansoprazol, maghtral, vit B, curcuma, dan obat mual diresepkannya.

Dengan perasaan sedikit lega dengan sugesti "bukan penyakit mematikan", membuat saya sedikit lega. Obat2 yang diresepkan saya konsumsi sesuai petunjuk diresep. Tapi 1 pekan dikonsumsi, tak ada perubahan juga. Serangan dingin, jantung berdebar2, gemetaran, badan lemas, sesak nafas masih datang silih berganti. Saya pun ambil cuti kerja 4 hari, dengan harapan kondisi semakin membaik.
Kenyataan masih belum seindah harapan. Tidak ada perubahan berarti. " Bi, gimana kalo ke dokter SSSS? Kata teman2, beliau dokter Sp, PD saluran pencernaan terbaik disini. Belum ada perubahan juga". Setelah mencari informasi memadahi, kami memutuskan untuk ihtiar ke sana. Dengan usaha yang luar biasa, karena kondisi masih sangat lemah, dingin masih sering menyerang tiba-tiba. 

Antri sendiri, dari jam 17.00 selesai jam 22.00, karena suami harus menjaga anak2 dirumah. "Cek darah, dan urin dulu ya" Kata dokter setelah konsultasi panjang lebar. "Belum ketemu penyakitnya aja, kita cek lengkap darah dan urin"

"Hasil labor, darah semua baik, normal tidak ada yang mengkhawatirkan. Urin juga semua normal. Hanya terdeteksi ada malaria. Lambung juga masih bermasalah. Nanti saya resepkan obatnya, semoga segera sehat. Saya nggak akan resepkan lansoprazol lagi, nanti kamu tersugesti, nggak akan sembuh. Semua obat yang lain dihentikan. Gunakan obat saya."

Suldox, domperidone, omeprazol, benozyme. Ketemu penyakit baru, malaria. Ini dia biang kerok, pikirku. Tapi yang mengherankan, ketika tanya ke teman2 yang terkena malaria juga. "Malaria itu cepet terdeteksinya lho. Malam meriang2 sore berikutnya cek darah, langsung ketahuan lho. Ini sudah 1,5 bulan lewat baru terdeteksi? Cek darah pertama tidak terdeteksi?" Begitu komentar beberapa teman.

Setelah konsumsi obat selama 1 minggu, sensasi dingin sudah sedikit berkurang. Sedikiiit.... Keluhan yang lain? Masih...

Suldox, Domperidone sudah habis dikonsumsi. Sakit tak juga kunjung membaik. Setelah cari2 informasi ke teman2 disini, kota endemi malaria. Yang konon "kalo belum kena malaria, belum di Bengkulu" Jadi diledekin, jadi orang bengkulu nian.. katanya. Ada yang menyarankan pake pbat malaria tradisional aja. Biji mahoni, biji beruang dll.

Saking pengen sembuhnya, obat2an tradisional pun saya minum. Dari yang aslinya merebus sendiri, sampai yang sudah berupa kapsul. Masih juga tak ada perubahan berarti. Saat obat habis, sakit kembali datang. Begitu selalu..

Bersambung.. di sini
 
#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikBahagia
#15HariBercerita
#HariKe3