Rabu, 14 Februari 2018

Petualangan Didunia Berjuta Sensasi 5

Setelah cukup informasi produk, mengikuti berbagai video kuliah herbanya, coba chating dengan admin bagaimana cara mendapatkan produknya, karena dikota ini belum terdengar ada yang menjualnya.

"Bi, umi dapat jawaban alternatif untuk si BK bi.. Insyaallah lebih baik lagi. Lebih ekonomis, dan lebih aman insyaallah." Membuka pembicaraan dengan suami. "Apalagi ini.. Umi ini ada-ada aja." Katanya menanggapi penjelasan saya yang panjang lebar. " Insyaallah umi yakin bi, dikit lagi sehat insyaallah. Gimana bi? Boleh?" Jawaban klasiknya muncul lagi, "Kalo umi yakin, baik dan aman... Abi dukung. Kita coba aja. Namanya juga ihtiar. Semoga Alloh sembuhkan."

"Gini bu, kalo saya coba diagnosa dari keluhan-keluhan ibu. Sakit yang gejalanya berpindah-pindah seperti itu. Berarti tubuh ibu terlalu asam, atau istilahnya Asidosis, sepertinya bukan malaria. Ibu nggak bisa makan buah, minum yakult Kita netralkan dulu dengan SC, diiringi dengan bekam ya buk." Begitu kira-kira ringkasan hasil konsultasi dengan pak Kurniawan. Herbalis, yang beberapa videonya saya lihat sedang belajar herbal dengan Tuan Guru di negeri sebrang sana.

Dan memang, ketika rasa dingin menyerang saya coba langsung lari ke labor untuk cek malaria, dan hasilnya negatif, tapi leukositnya agak tinggi.

1 Pekan pertama 1 botol SC habis, saya kembali konsul. "Pak, Masih sedikit2 muncul dingin merambat di lengan tangan dan kaki, kira-kira saya harus gimana lagi ya pak?" Tanya saya saat memberi report perkembangan setelah konsumsi herba. " Kalo gitu, ibu coba 1 botol lagi, kemudian bekam ya buk." Saya pun mengikuti sarannya, setelah 1 botol habis lanjut dengan bekam. Alhamdulillah syukur kepada Alloh semakin ringan badan. " Kalo sudah bekam lanjut dengan DC 3X3 selama 3 bulan minimal."

1 pekan konsumsi DC berasa badan mulai berenergi. Yang tadinya kipas angin dan AC menjadi benda yang paling dihindari. Mulai berasa nyaman saat berada didalamnya. Kaki mulai menghangat. Sensasi-sensasi datang hanya sesekali. Hingga 1 pekan setelahnya saya berhasil mengikuti outbond yang diselenggarakan saat mengikuti Ratekda, yang dilanjutkan dengan rangkaian kegiatasn penutupan sampai malam. Padahal, hari-hari sebelumnya saat adzan maghrib berkumandang, mulai mata ini seperti di lem, dan badan ini berat sekali meninggalkan pembaringan. Alhamdulillah 'ala kulli haal..

Akhir November lalu, sempat melihat postingan teman di FB yang suaminya keluar-masuk rumah sakit. Rumah sakit yang jadi rujukan jika RSUD disini tidak lagi mampu mengatasi pasien. Sempat pasang kateter jantung dan keluar masuk opname jantung.

Bersambung..

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe5

Senin, 12 Februari 2018

Petualangan Didunia Berjuta Sensasi 4

Sambungan dari halaman ini

Tak juga ada perubahan berarti setelah berobat selama 2 bulan. Tergiur dengan broadcast teman digrup, tentang obat yang di tawarkannya. "Bi, umi coba ini ya.. sudah terlalu lama umi minum obat2 kimia" Bujukku panjang lebar menjelaskan ke suami setelah terlebih dahulu mencari informasi kesana kemari khasiat obat itu. Sebut saja BK. -Karena saya nggak jualan, nggak perlu sebut lengkap ya..-

"Kalo umi yakin obat itu baik.. tidak membahayakan.. abi setuju aja" Begitu katanya. "Tapi bi, harganya mihil amit. Rp 840.000,- sebotol untuk 1 minggu, dikonsumsi selama 3 bulan. Gimana?" Begitu bujuk saya. "Kemaren, ke dokter juga sekali berobat hampir 1 juta, kalo emang itu menyembuhkan. Nggak apa2, yang penting umi sehat. Kita coba aja." Mendapat SIM dari suami, saya semakin bersemangat.

Akhirnya, saya banting setir. Memutuskan tidak lanjut ke dokter, dan melanjut ke BK. Selama kurang lebih 3 bulan. Sensasi masih datang silih berganti. Seminggu sesak nafas batuk, sembuh sendiri. Seminggu masuk angin, sembuh. Dan sensasi2 lain datang silih berganti. Tapi secara keseluruhan merasakan perbaikan.  

Badan sudah tidak terlalu oleng, pusing sudah semakin ringan, mata sudah terasa lebih terang, meski kadang masih berkabut kalo kecapekan. Badan sudah bisa dibawa bekerja, membereskan urusan rumah. Walaupun baru sekedar memasak dan menyapu. Kekantor juga sudah bisa berjalan lebih bertenaga. Capaian yang lumayan. Kalo boleh di bilang, ibarat batre di charge dari kondisi 30%, meningkat menjadi 80%. Capaian yang luar biasa bagi saya saat ini.

Tepat 3 bulan konsumsi BK sekitar akhir November 2017, saya ngobrol lagi dengan suami. "Bi, kan umi sudah 3 bulan minum BK, secara ekonomis.. Hehehe.. kurang ekonomis. Kondisi terus terang sudah jauh lebih baik dari waktu sakit dulu. Tapi masih muncul dikit-dikit. Gimana ya?" Ungkap saya ke suami. " Coba umi cari2 alternatif dari produk hpai, yang setara dengan BK kira2 apa obatnya." Saya pun mencari informasi, produk yang setara. Tapi tak mendapat jawaban memuaskan. Sampai akhirnya, saya coba cari produk dari Malaysia.

Saya ikuti kuliah2 herbanya, cari tahu produk2nya. Dan saya cari konsultan herbalisnya. Alhamdulillah mendapat jawaban.

Bersambung...
#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe4

Minggu, 11 Februari 2018

Petualangan Didunia Berjuta Sensasi 3

Sambungan dari sini
Akhirnya malam itu memutuskan untuk lari ke igd RS UUUU, setelah merepotkan banyak orang. Panggil adek ipar untuk ngantar ke RS, panggil teman sekantor abi untuk jagain di RS. Sedangkan abi, menjaga anak2 dirumah, karena kami tidak punya pengasuh yang menginap.
Sesampainya di IGD, di lakukan observasi dengan cek tekanan darah, dan tes gula darah. " Maaf buk, ibu nggak perlu opname. Tekanan darah ibu normal, gula darah bagus, demam juga nggak ada, hanya badan yang dingin dan gemetar. Kami lakukan suntik vitamin B aja ya buk. Kalo besok masih ada keluhan, ibu periksa ke internis aja ya.." Akhirnya kami pulang setelah dilakukan suntik vit B, dan dibekali vitamin B.

Keesokan harinya, sakit tidak juga berkurang. Suami memutuskan untuk lanjut periksa ke bagian internis. Setelah menunggu sekitar 4 jam, karena dokternya visitasi, akhirnya kami ketemu dokter Sp.PD. " Ibu bukan tipes ini, syarat pertama tipes itu demam tinggi! Ibu nggakbpernah demam kan? Ini salah diagnosa, tipes itu jika hasilnya > 1/320. Sedang ibu cuma 1/ 160, itu normal, semua orang sehat diperiksa widal akan muncul segitu. Badan ibu dingin, karena ibu nggak demam tapi minum parasetamol. Itu salah besar. Ibu ini lambungnya aja bermasalah, bukan penyakit mematikan. Ini saya resepkan obat." Penjelasannya yang terus menyerocos.. xixixi. Lansoprazol, maghtral, vit B, curcuma, dan obat mual diresepkannya.

Dengan perasaan sedikit lega dengan sugesti "bukan penyakit mematikan", membuat saya sedikit lega. Obat2 yang diresepkan saya konsumsi sesuai petunjuk diresep. Tapi 1 pekan dikonsumsi, tak ada perubahan juga. Serangan dingin, jantung berdebar2, gemetaran, badan lemas, sesak nafas masih datang silih berganti. Saya pun ambil cuti kerja 4 hari, dengan harapan kondisi semakin membaik.
Kenyataan masih belum seindah harapan. Tidak ada perubahan berarti. " Bi, gimana kalo ke dokter SSSS? Kata teman2, beliau dokter Sp, PD saluran pencernaan terbaik disini. Belum ada perubahan juga". Setelah mencari informasi memadahi, kami memutuskan untuk ihtiar ke sana. Dengan usaha yang luar biasa, karena kondisi masih sangat lemah, dingin masih sering menyerang tiba-tiba. 

Antri sendiri, dari jam 17.00 selesai jam 22.00, karena suami harus menjaga anak2 dirumah. "Cek darah, dan urin dulu ya" Kata dokter setelah konsultasi panjang lebar. "Belum ketemu penyakitnya aja, kita cek lengkap darah dan urin"

"Hasil labor, darah semua baik, normal tidak ada yang mengkhawatirkan. Urin juga semua normal. Hanya terdeteksi ada malaria. Lambung juga masih bermasalah. Nanti saya resepkan obatnya, semoga segera sehat. Saya nggak akan resepkan lansoprazol lagi, nanti kamu tersugesti, nggak akan sembuh. Semua obat yang lain dihentikan. Gunakan obat saya."

Suldox, domperidone, omeprazol, benozyme. Ketemu penyakit baru, malaria. Ini dia biang kerok, pikirku. Tapi yang mengherankan, ketika tanya ke teman2 yang terkena malaria juga. "Malaria itu cepet terdeteksinya lho. Malam meriang2 sore berikutnya cek darah, langsung ketahuan lho. Ini sudah 1,5 bulan lewat baru terdeteksi? Cek darah pertama tidak terdeteksi?" Begitu komentar beberapa teman.

Setelah konsumsi obat selama 1 minggu, sensasi dingin sudah sedikit berkurang. Sedikiiit.... Keluhan yang lain? Masih...

Suldox, Domperidone sudah habis dikonsumsi. Sakit tak juga kunjung membaik. Setelah cari2 informasi ke teman2 disini, kota endemi malaria. Yang konon "kalo belum kena malaria, belum di Bengkulu" Jadi diledekin, jadi orang bengkulu nian.. katanya. Ada yang menyarankan pake pbat malaria tradisional aja. Biji mahoni, biji beruang dll.

Saking pengen sembuhnya, obat2an tradisional pun saya minum. Dari yang aslinya merebus sendiri, sampai yang sudah berupa kapsul. Masih juga tak ada perubahan berarti. Saat obat habis, sakit kembali datang. Begitu selalu..

Bersambung.. di sini
 
#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikBahagia
#15HariBercerita
#HariKe3

Selasa, 06 Februari 2018

Petualangan Didunia Berjuta Sensasi 2

 Sambungan dari sini

Sore harinya, sepulang kerja saya singgah di Klinik MMMM. Dokter pribadi BPJS. Dokter Cantik, "Mmmm, 2 tahun yang lalu terakhir ibu berobat ya? Alhamdulillah berarti sehat ya buk.." Sapanya setelah melihat rekam medis saya. "Dok, saya minta cek darah ya dok. Saya belum pernah mengalami sakit yang begini dok. Ini benar-benar sakit dok" pinta saya setelah bercerita panjang lebar. "Baiklah buk, cek malaria, tipes, gula, kolesterol, asam urat, HB, Lekosit".

Beberapa saat setelah hasil cek lab keluar. "Ibu, hasil cek semuanya bagus bu. Cuma Terdeteksi tipesnya 1/180. Kemungkinan ibu kena tipes. Lambungnya juga bermasalah. Ini saya resepkan obat terbaik ya buk, nanti ditebus di apotik. Insyaallah segera sehat". sambil menyalami saya sebelum meninggalkan ruang periksa.

3 hari saya izin sakit dengan rekomendasi dokter. Hari-hari berikutnya kekantor dengan kondisi sangat lemah. Setiap jam 10 pagi, keringat dingin mulai mengucur, badan gemetaran, mata kabur, tangan dan kaki kesemutan. Terpaksa harus izin meninggalkan kantor karena tak sanggup lagi duduk untuk pulang berbaring. Tapi apa dikata, emak rempong maksud hati pulang istirahat tapi yang didapat justru anak yang merengek minta gendong dan tak mau lepas dari emak. Serba salah memang. Seminggu berlalu dan kondisipun tidak membaik. 
 
Namun saya harus kembali lagi ke dokter yang sama, dengan harapan dokter sudah mengetahui riwayat sakit yang saya alami. "Oh, ya nggak apa-apa buk, kita lanjut aja obatnya, mungkin masih belum tuntas". Dan disodorkan obat yang sama. Satu minggu berlalu lagi, tak juga ada tanda-tanda membaik.. 

Ngobrol dengan teman-teman dikantor. Sejak di vonis tipes, terus terang bikin saya agak parno juga, mengingat tipes kan menular lewat makanan, sampai lewat alat makan. Kekhawatiran terbesar justru takut menular ke anak-anak yang mungkin bakal kurang perhatian karena emaknya sakit. Maka upaya lain pun ditempuh, kami pergi ke tabib Asep yang menurut pengalaman beberapa teman, sembuh dengan obat tipesnya. Suami pun menuruti, karena nggak tahu harus gimana lagi. Di tabib Asep diberi obat herba racikan sendiri untuk obat tipes, untuk dikonsumsi sinergi dengan obat dokter.

Hingga kali ke3 saya kembali ke dokter yang sama. "Dok, bisa saya cek darah lagi dok? Teman-teman saya sakit tipes 3 hari berobat sembuh, kok saya sudah 2 minggu masih juga sama ya dok.." Dokter pun mengiyakan. Dan setelah selesai cek darah, "Ibu, tipesnya sudah membaik, ini tinggal 1/80. Bisa dibilang sudah sembuh. Tapi supaya tuntas saya kasih untuk 3 hari ya, selebihnya obat lambungnya saya sertakan juga"

Hitung-hitung sudah minggu ke 6 sejak terkena serangan, kondisi tidak juga membaik. Hingga bertepatan dengan hari raya 'Idul Adha. Malam harinya serangan masih datang lagi. "Bi, umi opname aja ya.. Umi kok nggak sembuh-sembuh sudah 1,5 bulan kok masih kambuh-kambuhan terus. Biarlah umi opname, 2-3 hari tapi setelahnya bisa sehat. Ya bi.." Bujuk saya ke suami. Karena opname memang jadi pilihan berat bagi kami yang dirantauan, dengan anak-anak yang masih kecil-kecil. Tanpa pembantu yang menginap. Terbayang betapa repotnya.

Bersambung.. di sini

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe2

Senin, 05 Februari 2018

Petualangan Didunia Berjuta Sensasi 1

Hari itu terakhir di bulan syawal 1438 H, bertepatan dengan hari terakhir puasa syawal.. Ketahuan suka mepet-mepet ya..
Puasa pun saya jalani seperti biasa saat berpuasa. Namun saat menjelang berbuka, tiba- tiba saja badan terasa kurang nyaman, yang tidak biasa. Mungkin saja karena sedang berpuasa.
Saya raih air hangat beserta satu sendok sari kurma, sebagai mana biasanya berbuka. Tapi rasa nggak nyaman semakin menjadi. Biasa kan ya emak rempong, biarpun saat berbuka kadang masih saja sibuk dengan urusan bocah. Begitu juga saya. Sampai akhirnya nggak kuat, "Bi, tolong pegangin dedek. Badan umi nggak nyaman banget ini." Keringat nggak tahu darimana tiba2 saja membanjir keseluruh tubuh. Jantung berdegub sedemikian kuatnya, nafas serasa berat, pandangan kabur, dan badan gemetaran hebat. 

Dunia serasa akan berakhir sesaat lagi.. Abi pun mulai kebingungan, tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Anak-anak pun mulai cemas. Sesaat saya pun merasa kehilangan akal, ini sakit yang tak biasa dan belum pernah terjadi. Ditengah suasana yang tak menentu, saya berusaha untuk bisa menguasai keadaan. 

Berulang-ulang saya coba menuang air panas ke dalam gelas, dan coba segera meminumnya, dibantu suami menuangkan sari kurma ke air panas dan segera meminumnya. Suami memborehkan MHS ke seluruh tubuh, kemudian berbaring. 

Saya coba untuk memejamkan mata, tapi pikiran kemana-mana, dzikir dan istighfar terlantunkan dari lidah meskipun rasanya begitu kelu. Sekitar 2 jam kemudian, muntah-muntah tak terkendali. Tapi kemudian sedikit lega, hingga saya kembali kuat bangkit untuk sholat maghrib dan isya dan berbuka dengan sekedarnya.

Keesokan harinya, badan masih berasa berat, tapi saat berjalan berasa gempa bumi, saat duduk berasa berada diatas kereta berjalan. Malam harinya, kami berobat ke klinik As-Syifa. Diagnosa dokter sakit maag diberi obat ratinidin dan tripanzyme. 3 hari konsumsi obat tak juga ada perubahan, bahkan bertambah menjadi. Keringat dingin masih saja tiba-tiba mengucur. Saya mencoba bertahan. Karena tak pernah mengalami sakit yang sedemikian, biasanya hanya pusing, atau masuk angin, paling minum madu juga sembuh. 2 tahun sebelumnya terakhir sakit, vertigo alhamdulillah 2 hari berobat langsung sembuh.

Karena sebelumnya terbiasa menggunakan obat herba, saya coba hubungi terapis herba tempat biasa konsultasi, diresepkannya 6 macam herba, alhamdulillah berasa lebih nyaman di badan. Sekitar 1 pekan menggunakan herba, saat obatnya habis, kembali menyerang. Keringat dingin terus mengalir, jantung berdebar-debar, tidak bisa tidur dimalam hari, badan gemetaran dada berasa sesak, mata kabur. Serangannya tidak menentu, kadang siang hari, kadang sore hari, kadang malam hari.

Siang itu saat berada dikantor, tiba-tiba sakit itu menyerang lagi. Sekujur tubuh mendingin, diiringi perut mules dan diare. Saya ambil air, kemudian direbus hingga mendidih, kemudian tuang diember kecil, saya letakkan di bawah kursi, dan saya rendam kaki dengan harapan akan mengurangi rasa dingin yang menyerang, tak juga berkurang, saya masuk ke mobil yang terparkir dibawah terik matahari. Perlahan tubuh mulai menghangat, keringat dingin mulai berubah menjadi hangat.

Bersambung... ke sini

#PerempuanBPSMenulis
#Menulis AsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe1